INIGRESIK – Populasi Rusa Bawean atau Axis kuhlii kini diperkirakan tersisa kurang dari 250 ekor di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Fakta ini diungkap dalam podcast YouTube Ini Gresik episode keempat bersama aktivis lingkungan dan jurnalis foto Mas Guslan, yang menyoroti krisis serius satwa endemik tersebut serta upaya penyelamatan yang tengah dilakukan.
Rusa Bawean merupakan satwa endemik yang hanya hidup di Pulau Bawean dan tidak ditemukan di wilayah lain di dunia. Ironisnya, hewan ini pernah dikenal luas sebagai maskot Asian Games 2018 bernama Atung. Namun, di tengah popularitas simboliknya, kondisi populasi di habitat asli justru terus menurun.
Mas Guslan menjelaskan, ancaman terbesar bagi Rusa Bawean saat ini berasal dari anjing liar yang populasinya tidak terkendali. Hewan predator tersebut kerap memburu rusa di habitat alaminya. Selain itu, jerat yang dipasang warga untuk menangkap babi hutan sering kali justru menjerat rusa secara tidak sengaja.
Faktor bencana alam juga memperparah situasi. Gempa bumi yang pernah melanda Bawean menyebabkan sejumlah rusa di pusat penangkaran terlepas dan sulit dikendalikan kembali. Kombinasi berbagai ancaman ini membuat status konservasi Rusa Bawean berada dalam kategori sangat kritis.
Upaya penyelamatan dilakukan oleh Yayasan Alam Biodiversity Indonesia atau ABI bersama mitra internasional. Mas Guslan menyebut pihaknya bekerja sama dengan peneliti dari Jerman, Dr Frank dari Association Nature Biodiversity, untuk melakukan riset komprehensif terhadap populasi rusa.
Teknologi modern turut dimanfaatkan dalam proses pemantauan. Tim konservasi memasang GPS collar pada ketua kelompok rusa untuk melacak pergerakan, serta menggunakan camera trap guna memantau populasi dan pola aktivitas satwa. Penelitian DNA yang dilakukan juga mengonfirmasi bahwa Rusa Bawean memiliki karakter genetik unik dan berbeda dari spesies rusa lain di dunia.
Baca Juga : Berdiri Sejak 2016, Stand Up Indo Gresik Catat 60 Penonton per Show dan Targetkan Special Show Tahunan
Selain fokus pada penelitian, ABI memiliki visi jangka panjang membangun pusat konservasi dan edukasi terpadu di Bawean. Konsep yang dirancang bukan sekadar taman wisata, melainkan mencakup zona penelitian, area pembiakan, serta pusat pendidikan lingkungan bagi masyarakat dan pengunjung.
Model pengembangan ini juga diarahkan pada pariwisata minat khusus berbasis ekosistem. Wisatawan yang datang direncanakan akan mendapatkan pembekalan sebelum melakukan aktivitas seperti snorkeling, guna menjaga kelestarian terumbu karang dan habitat laut Bawean.
Mas Guslan, yang pernah berkarier sebagai jurnalis foto di Jawa Pos, menegaskan pentingnya peran visual dalam gerakan konservasi. Foto satwa liar dan dokumentasi bawah laut menjadi bukti nyata kondisi lapangan sekaligus alat advokasi untuk membuka mata publik dan pemerintah.
Ia juga menyerukan sinergi antara Pemerintah Kabupaten Gresik dan perusahaan besar melalui program tanggung jawab sosial atau CSR untuk mendukung pembelian lahan dan pembangunan pusat konservasi. Menurutnya, tanpa dukungan konkret, upaya penyelamatan akan sulit berjalan optimal.
Kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, dinilai menjadi kunci keberhasilan konservasi. Jika tidak ada langkah nyata dalam waktu dekat, ikon kebanggaan Gresik yang pernah mendunia ini berisiko hilang selamanya dari habitat aslinya.
Krisis Rusa Bawean menjadi pengingat bahwa simbol kebanggaan tidak cukup tanpa perlindungan nyata. Dengan populasi yang tersisa kurang dari 250 ekor, langkah kolaboratif dan terukur menjadi kebutuhan mendesak untuk memastikan satwa endemik ini tidak benar-benar punah dari bumi Bawean.

