Categories
Artikel

Sejarah Wisma Achmad Yani Semen Gresik Dulu dan KIni

Gresik – Keberadaan Wisma Achmad Yani di area Semen Gresik tepatnya di jalan Veteran memiliki nilai sejarah tersendiri, selain diperuntukan sebagai penghormatan kepada para pahlawan revolusi Indonesia, gedung ini bisa dikatakan megah pada masanya, disalah satu sudutnya terdapat prasasti yang tertulis tanggal 8 Januari 1966 diresmikan oleh Brig Djen R Soenarijadi  
Nama Semen Gresik yang berubah nama menjadi Semen Indonesia sejak jaman Dahlan Iskan ini masih meninggalkan salah satu gedung yang selalu ramai, dengan kapasitas 900 orang gedung ini memiliki panjang 52 meter dan lebar 22,9 meter
Gedung ini memiliki ornamen bernuansa klasik seperti terlihat pada bentuk pintu, jendela, plafon, lubang angin dan beberapa sudut lainnya
Sekarang gedung tersebut sering digunakan untuk acara resepsi pernikahan, event perusahaan dan beberapa pameran dan pertunjukan 

Biaya Sewa Gedung Wisma Achmad Yani 

Untuk hari Sabtu, Minggu dan hari besar biaya sewanya Rp 8.500.000,-
Untuk hari Senin – Jum’at  biaya sewanya Rp 8.000.000,-
Sementara untuk warga semen bisa mendapatkan potongan sebesar satu juta dengan syarat menunjukan kartu pegawai
[post_ads]

Fasilitas Gedung Wisma Achmad Yani 

Selain cocok untuk acara pernikahan dan event pameran karena ruangan dan tempat parkir yang luas, gedung ini juga ada fasilitas ruang transit AC, Soun System, PAnggung, Listrik, AC, Kursi dan Ruangan penerima tamu serta dapur dan ruang cucinya

Categories
Artikel

Menunggu Realisasi Kawasan Religi dan Bersejarah Gresik ?

Upaya pemerintah kabupaten Gresik dan provinsi Jawa Timur untuk mengembalikan kejayaan Gresik sebagai salah satu pusat peradaaban Islam berpengaruh di Nusantara mendapat perhatian serius dari pimpinan daerah kabupaten Gresik. 
Dalam sebuah pertemuan (8/5/2015) yang dikutip wartawan Surya disebutkan bahwa Bupati beserta Wakil Bupati Gresik mengutarakan kepada Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) bahwa pemerintah kabupaten Gresik akan menjadikan kawasan Alun-alun Gresik sebagai pusat religi dan bangunan bersejarah. 
Pemerintah Daerah berencana menyakinkan bahwa Gresik tidak tergoyahkan dengan adanya pertumbuhan industri dan budaya asing. Beliau ingin menunjukkan Gresik sebagai kota Santri dan Wali dengan salah satu upayanya menjadikan daerah disekitar Alun-alun Gresik sebagai kawasan religi dan bersejarah. 
Rencana menjadikan pusat kota Gresik sebagai kawasan religi ternyata tidak main-main, proyek tersebut yang direncanakan selesai tahun 2016 atau 2017 tersebut nantinya akan menggusur kantor DPRD Gresik dan kantor Dinas yang akan dipindah semua dekat kantor bupati. 
Wakl Gubernur Jawa Timur Syaifulah Yusuf (Gus Ipul) mengapresiasi proyek besar pemerintah kabupaten Gresik, beliau juga berharap pada beberapa tempat wisata religi ditambah sekaligus diperbaiki seperti rest area, toilet, serta infrastruktur agar masyarakat lebih nyaman. 
Namun hingga saat ini pemerintah daerah kabupaten Gresik belum terlihat serius merawat fasilitas yang telah ada seperti gerbang memasuki kawasan wisata religi Maulana Malik Ibrahim, belum adanya penunjuk arah terhadap beberapa kawasan wisata religi, serta beberapa hal yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah kabupaten Gresik terhadap keseriusan pemerintah kabupaten Gresik sebagai ikon kota religi. 
Beragam tanggapan di sosial media terhadap rencana ini ada yang mengkritisi sebagai upaya pencitraan menjelang pilkada karena selama ini pemerintah kabupaten Gresik belum totalitas merawat potensi yang telah, adapula yang menyambut baik langka besar pemerintah kabupaten Gresik dalam upaya membangun kembali citra Gresik sebagai kota Wali dan kota Santri.


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Categories
Artikel

Ternyata KH Ahmad Dahlan dan KH Mohammad Hasjim Asy’arie Bernasab Sama

Sejarah Indonesia telah mencatat dua nama besar yaitu Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammad Darwis) dan Kyai Haji Mohammad Hasjim Asy’arie sebagai pendiri ormas Islam yang terbesar di Indonesia. Dua organisasi Kemasyarakatan (Ormas) tersebut Yaitu Muhammadiyah yang didirikan KH Ahmad Dahlan pada 18 Nopember 1912, dan Nahdlatul Ulama yang didirikan KH Hasyim Asyari pada tanggal 31 Januari 1926

Kedua tokoh besar yang merupakan Pahlawan Nasional tersebut ternyata bersaudara dan memiliki satu nasab yang sama, jika pembaca iniGresik penasaran berikut coba kami ulas nasab dari kedua tokoh tersebut berdasarkan Buku “Api Sejarah Karya Ahmad Mansur
Surya Negara Hal 148”

Nasab Kyai Haji Ahmad Dahlan sebagai berikut :

  • Maulana Ishaq
  • Sulaiman (Ki Ageng Gribig)
  • Demang Djurung Djuru Sapisan
  • Demang Djurung Djuru Kapindo
  • KH Murtadha
  • KH Sulaiman
  • KH Ilyas
  • KH Abu Bakar
  • KH Ahmad Dahlan
Nasab Kyai Haji Mohammad Hasjim Asy’arie sebagai berikut :
  • Maulana Ishaq (orang tua – Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) 
  • Abdullah 
  • Abdul Aziz 
  • Abdul Fatah 
  • Abdurrohman (Sultan Haji Wijaya / Joko Tingkir) 
  • Abdul Halim (Pangeran Benawa) 
  • Abdul Wahid 
  • KH. Hasyim Asy’ari (Jombang) 

Dari kedua nasab tokoh diatas didapat sebuah nama yang bernama Maulana Ishaq , beliau merupakan merupakan putra dari Syekh Ahmad Jumadil Qubra

Semoga setelah mengetahui nasab tersebut kita bisa semakin saling memahami dan pengertian diantara kedua pengikut ormas terbesar di Indonesia sehingga semakin mempererat persaudaraan diantara Masyarakat Indonesia


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Categories
Artikel

Benarkah Manuskrip Al Qu’an Tertua di Birmingham dan Berlin ?

Manuskrip Al-Qur’an Tertua di dunia

Manuskrip kuno bertuliskan huruf Arab yang berada di University of Birmingham yang selama ini tidak tersentuh, tiba tiba dikejutkan dengan penelitian dari Alba Fedeli yang sedang menempuh gelar doktor disana 

Setelah dilakukan uji radiokarbon bersama Oxford University secara mengejutkan ternyata manuskrip tersebut berusia 1.370 Tahun atau dibuat sekitar tahun 568 atau 645, jika saja itu benar maka penggalan kitab suci itu dibuat pada masa Nabi Muhammad saw yang menerima wahyu Al Quran pada tahun 610 dan 632.
Diketahui manuskrip yang bertuliskan Hijazi “dua lembaran ini, yang ditulis dengan aksara Hijazi yang indah dan terbaca jelas, hampir pasti berasal dari jaman tiga khalifah pertama” ujar Waley seperti dikutip dari BBC 22/07/15, kurator manuskrip-manuskrip di British Library

Dalam sejarahnya manuskrip ini didapatkan dari Alphonse MInggana yang lahir dan besar di Iraq dan mengumpulkannya sejak tahun 1920

Qur’an Tertua di Berlin Jerman 

Sebelum pemberitaan diatas di Berlin Jerman juga dikabarkan terdapat manuskrip Al Quran tertua yang diperkirakan ditulis antara tahun 606 hingga 652 Masehi, menurut hasil analisis teknis di Swiss
Adapun mushaf Al-Quran tertua, yang berada di perpustakaan Berlin menurut informasi berasal dari ahli waris orientalis bernama Gottfried Wetzstein yang menjadi konsul Jerman di Damaskus antara tahun 1846 hingga 1861. 
sumber : BCC | Dakwatuna | JawaPos


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Categories
Artikel

Soedarmono Wakil Presiden Indonesia Asal Gresik

Soedarmono wakil presiden Republik Indonesia ini ternyata berasal dari Gresik lho rek, laki laki berpostur tinggi ini lahir di Cerme pada tanggal 12 Maret 1927, pada usia tiga tahun beliau sudah menjadi yatim piatu. Ayah beliau bernama R Wiroredjo dan ibu bernama Soekarsi. Ibunya meninggal setelah melahirkan adiknya tahun 1930, enam bulan setelahnya ayah Soedarmono meninggal karena sakit, sehingga sejak kecil sudah harus berpindah-pindah orang tua asuh
Istri Soedarmono bernama Emma, mereka dikarunia 3 orang anak.  Pak Dhar biasa beliu dipanggil oleh teman dan para kuli tinta, salah satu peran beliau sebelum menjabat wapres adalah ikut aktif dalam pemberantasan PKI sebagai partai terlarang saat itu
Soedarmono memulai karir militernya sejak jaman perang kemerdekaan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan pangkat kapten bergabung dengan divisi Ronggolawe, sementara karir politiknya dimulai ketika periode 1983-1988 hingga akhirnya menjadi wakil presiden Indonesia yang ke lima

sumber : Legenda Tokoh Pejuang Dakwah Islam di Gresik, Disparinkom Kabupaten Gresik


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Categories
Artikel

Walisongo Periode Pertama

Pada waktu Sultan Muhammad I yang merupakan pemimpin kusultanan Turki Ottoman, beliau menanyakan perkembangan agama Islam kepada para pedagang dari Gujarat (India). Dari keterangan para pedagang muslim Sultan Muhammad I mendapatkan informasi bahwa di Pulau Jawa ada dua kerajaan Hindu yaitu Majapahit dan Padjajaran. 
Dari keterangan tersebut diketahui diantara para rakyat di Pulau Jawa ada yang beragama Islam tapi hanya terbatas pada keluarga pedagang Timur Tengah dan Gujarat yang menikah dengan penduduk pribumi yang sebelumnya diislamkan terlebih dahulu. Mayoritas komunitas keluarga muslim tersebar di kota-kota pelabuhan seperti Gisik (Gresik), Tuban, Demak, Cirebon, Banten, dan sebagainya. 
Pada akhirnya Sultan Muhammad I mengirim surat kepada para pembesar Islam di Timur Tengah dan Afrika Utara. Dari surat tersebut terdapat permohonan kepada para Ulama yang mempunyai ilmu agama Islam yang sangat tinggi untuk secara ikhlas dikirim ke Pulau Jawa. Maka terkumpulah sembilan ulama berilmu tinggi. 
Pada tahun 808 Hijrah atau 1404 Masehi para ulama itu berangkat ke Pulau Jawa. Mereka adalah : 
1. Syekh Maulana Malik Ibrahim 
Berasal dari Turki, ahli mengatur negara. Berdakwah di Jawa bagian timur, wafat di kota Gresik, Jawa Timur pada tahun 1419 M. Makamnya terletak sekitar 300 meter sebelah selatan Alun-alun Gresik. 
2. Syekh Maulana Ishaq 
Berasal dari Samarqand (dekat Bukhara – Rusia Selatan), ahli pengobatan. Berdakwah di Jawa bagian timur, setelah tugasnya di Jawa selesai Syekh Maulana Ishaq melanjutkan dakwahnya ke Pasai dan wafat disana. Beliau merupakan ayahanda Syekh Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri) 
3. Syekh Maulana Ahmad Jumadil Kubro 
Berasal dari Mesir, Beliau berdakwah di Jawa bagian timur. Makamnya di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Beliau merupakan kakek Sayyid Ali Murtadho “Raden Santri” (Sunan Gisik, Gresik) dan Sayyid Ali Rahmatullah “Raden Rahmat” (Sunan Ampel, Surabaya). 
4. Syekh Maulana Al Maghrobi 
Berasal dari Maghrib (Maroko), Beliau berdakwah di Jawa bagian Tengah. Wafat pada tahun 1465 M. Makamnya di Jatinom, Klaten, Jawa Tengah. 
5. Syekh Maulana Malik Isroil 
Berasal dari Turki, ahli mengatur negara. Beliau berdakwah di Jawa bagian tengah. wafat tahun 1435 M. Makamnya di Gunung Santri. 
6. Syekh Maulana Ali Akbar 
Berasal dari Persia (Iran), ahli pengobatan. Berdakwah di Jawa bagian barat. Wafat tahun 1435 M. Makamnya di Gunung Santri. 
7. Syekh Maulana Hasanuddin 
Berasal dari Palestina. Berdakwah di Jawa bagian barat. Wafat tahun 1462 M. Makamnya di samping Masjid Banten lama. 
8. Syekh Maulana Aliyuddin
Berasal dari Palestina. Berdakwah di Jawa bagian barat. Wafat tahun 1462 M. Makamnya di samping Masjid Banten lama. 
9. Syekh Subakir 
Berasal dari Persia, ahli ekologi Islam. Beliau berdakwah keliling, setelah tugasnya selesai beliau kembali dan melanjutkan dakwah di Persia. Pada tahun 1462 M dan wafat disana 
Perlu diketahui bahwa anggota Wali Songo mengajarkan Islam Ahlussunah wal Jama’ah sesuai pesan Rasulullah SAW dalam sebuah hadistnya. Disini negeri Persia (Iran) masih dalam naungan Islam Ahlussunah wal Jama’ah. 
bersambung…


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Categories
Artikel

Ternyata Walisongo Berjumlah Banyak

Banyak riset menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Tidak mengherankan jika saat ini Indonesia menjadi salah satu negara rujukan para pelajar muslim untuk menimbah ilmu keagamaan serta mempelajari metode dakwah yang sangat efisien, terhitung hanya sekitar 2 abad atau sekitar abad ke-14 hingga abad ke-16 Indonesia menjadi negara mayoritas penduduknya beragama Islam yang sebelumnya bertahun-tahun mayoritas beragama Hindu, Budha, serta Atheisme. 
Catatan penyebaran agama Islam ini tercatat jelas oleh para sejarahwan dunia salah satunya yang ditulis oleh Ibnu Bathuthah dalam kitab Kanzul Ulul.
Dalam catatan sejarahnya Ibnu Bathuthan menjelaskan secara terperinci peran besar Wali Songo dalam menyebarkan agama di Nusantara. Metode dakwah yang santun dan terorganisir, serta pendekatan secara persuasif dengan pembinaan sosial budaya yang diarahkan sesuai syari’at Islam dan meninggalkah hal-hal yang memang tidak sesuai syari’at Islam membuat Wali Songo mendapat perhatian dari masyarakat tak terkecuali dihapusnya sistem kasta yang saat itu banyak berkembang di Masyarakat. Wali Songo merupakan suatu dewan dakwah atau dewan mubaligh. 
Apabila salah seorang dari dewan tersebut pergi atau meninggal dunia maka akan diganti oleh wali lainnya.
Dalam perjalanan sejarah Wali Songo melakukan sidang sebanyak tiga kali, pertama pada tahun 1404 M dengan sembilan Wali, kedua pada tahun 1436 M dimana terdapat tiga Wali masuk menggantikan yang wafat, serta pada tahun 1463 M dimana terdapat empat wali masuk menggantikan para wali yang wafat dan para wali yang pergi untuk hijrah dakwah diluar Nusantara.
Menurut KH. Dachlan Abdul Qohar dalam buku Kisah Wali Songo yang ditulis Mbah Rahimsyah, menyebutkan bahwa pada tahun 1466 M, Wali Songo melakukan sidang lagi membahas berbagai hal. Diantaranya adalah perkara Syeikh Siti Jenar, serta wafatnya dua orang Wali yaitu Maulana Muhammad Al Maghrobi dan Maulana Ahmad Jumadil Kubro, serta masuknya dua orang Wali menjadi anggota Wali Songo. Dalam beberapa catatan sejarah menjelaskan adal lima periodesasi dewan dakwah Wali Songo.

Insya’allah Bersambung…
@wahyufirsyah

Categories
Artikel

Pencetus Hanacaraka Seorang Muslim

Menurut berbagai catatan kuno mengenai Jawa, asal usul pulau Jawa baru diketahui ketika kedatangan Aji Saka. Dari sumber Babad Tanah Jawi dijelaskan bahwa Aji Saka merupakan utusan dari kerajaan Astina. Astina merupakan nama lain dari salah satu daerah kekuasaan kerajaan Islam, beberapa sumber menyebutkan bahwa beliau berasal dari Gujarat (India), ada pula yang menyebutkan beliau berasal dari Persia (Iran). 
Aji Saka merupakan gelar seorang mubaligh di tanah Jawa yang memiliki nama asli Syekh Subakir.Beliau merupakan spesialis di bidang ekologi Islam berkebangsaan Persia. Beliau merupakan cicit dari salah satu sahabat Rasulullah SAW yang bernama Salman al-Farisi. Selanjutnya beliau mendapat amanah dari Sultan Muhammad 1 sebagai salah satu anggota Wali Songo periode pertama.
Dalam catatan KH. Shohibul Faroji Al-Robbani, nasab lengkap Syeikh Subakir adalah Syeikh Subakir bin Abdullah bin Aly bin Ahmad bin Aly bin Ahmad bin Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Aly bin Abu Bakar bin Salman bin Hasyim bin Ahmad bin Badrudin bin Omar bin Aly bin Salman Al-Farisi (Sahabat Rasulullah SAW). 
Beliau berdakwah keliling dan menjadikan Gunung Tidar, Magelang sebagai pesantren pusat dakwahnya. Syekh subakir kembali ke Persia pada tahun 1462 M dan wafat disana.
Syeikh Subakir meninggal dunia di Persia (Iran), beberapa karya Syeikh Subakir yang bergelar Aji Saka yaitu penemu sekaligus pengagas huruf jawa yang berbunyi 
Ha, Na, Ca, Ra, Ka, Da, Ta, Sa, Wa, La, Pa, Dha, Ja, Ya, Nya, Ma, Ga, Ba, Tha, Nga. Beliau juga yang memberi nama Jawa yang diambil dari bahasa Suryani yang artinya tanah yang subur. Syekh subakir menciptakan huruf-huruf untuk mengabadikan kesetiaan dua santrinya dalam melaksanakan tugas. 
HaNa CaRaKa = Ada Utusan 
DaTa SaWaLa = Pada Bertengkar 
PaDha JaYaNya = Sama Saktinya
MaGa BaThaNga = Mati Bersama 
 Dalam sebuah tutur cerita disebutkan pula bahwa Syeikh Subakir pernah berdakwah di daerah Ujung Pangkah Gresik, nama Ujung Pangkah sendiri merupakan pemberian masyarakat luar terhadap santri dan keturunan para santri yang tinggal di daerah tersebut dengan ciri memiliki tanda pangkah di dahi. 
Refrensi :
Catatan KH. Shohibul Faroji Al-Robbani
“http://fakrilmi blogspot.com”
Bukti Otentik Terdapat di Cirebon (Sumber : HYPERLINK “http://fakrilmi blogspot.com” http://fakrilmi blogspot.com)


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Categories
Artikel

Silsilah Kanjeng Sepuh Sidayu (Pangeran Haryo Suryodiningrat)

Silsilah Kanjeng Sepuh Sidayu (Pangeran Haryo Suryodiningrat)
Kanjeng sepuh berasal dari Solo  dengan nama raden Adipati Soeryo Diningrat, beliau adalah putra selir Sayid Abdur Rahman Sinuwun Solo. Pada tahun 1817 mulai dibenum menjadi Bupati Sedayu

berikut silsilah Kanjeng Sepuh Sidayu (Pangeran Haryo Suryodiningrat) diambil dari buku “legenda tokoh pejuang dakwah Islam di Gresik yang diterbitkan oleh Disparinkom pada tahun 2001

Categories
Artikel

Buyut Senggulu, Perintis Tradisi Pasar Bandeng?

Syekh Djalaluddin atau lebih dikenal dengan sebutan “Buyut Senggulu” merupakan salah satu keturunan Sunan Giri. Kata “Senggulu” berasal dari kata sang guru atau seng guru yang berarti guru ku atau seorang yang berdakwah pada ku. Beliau memiliki peran yang sangat besar, tepatnya masa kesunanan Giri VII (Pangeran Mas Witono) yang diperkirakan sekitar tahun 1600-an. Beliau sendiri merupakan salah satu orang kepercayaan Pangeran Mas Witono. 
Bersama pangeran dari Solo, Syekh Djalaluddin mendapat amanah dari Pangeran Mas Witono untuk berdakwah di daerah Gresik tepatnya di desa Trate. Sedangkan pangeran dari Solo mendapat amanah berdakwah di daerah yang kini bernama Benowo. 
Diperkirakan Buyut Senggulu hidup pada masa Buyut Biting yang makamnya saling berdekatan. Keduanya sangat berjasa terhadap tatanan masyarakat Gresik dengan cara yang berbeda. Buyut Biting sebagai seorang dermawan sedangkan Buyut Senggulu sebagai pendakwah. Namun keduanya sama-sama berjuang dan menyebarkan kebaikan di daerah Gresik. Diperkirakan beliau meninggal malam Jum’at Kliwon dan di makamkan di desa Trate, kecamatan Gresik. Buyut Senggulu sendiri putra dari Pangeran Setro bin Pangeran Tumapel bin Sunan Deket bin Sunan Dalem bin Sunan Giri. 
Buyut Senggulu memiliki tiga orang anak yang semuanya berjenis kelamin perempuan, yaitu Nyai Mas, Nyai Anger, dan Nyai Werugil. Nyai mas bersuamikan Kyai Qomis Tunggulwulung, keturunan kerajaan Islam Palembang. Kyai Qomis merupakan ahli kanuragan yang sangat sakti. Beliau menjaga keamanan Gresik dari orang-orang luar yang hendak mengacaukan Gresik pada zamannya. Nyai Mas dan Kyai Qomis inilah yang melahirkan seorang anak tyang kemudian hari menjadi bupati pertama Gresik, Yaitu Kyai Pusponegoro. 
Dikisahkan pula, kedekatan hubungan antara Gresik dan Palembang pada zaman itu sangat erat sehingga keluarga Kyai Qomis dari Palembang setiap menjelang Hari Raya selalu silaturrahmi ke Buyut Senggulu. Masyarakat Gresik menyambut dengan suka cita para rombongan dari keluarga Palembang. Banyaknya tamu yang hadir dimanfaatkan masyarakat Gresik sebagai salah satu penghasil ikan bandeng yang dikenal sangat gurih untuk berjualan, ada pula yang berjualan makanan maupun cinderamata disepanjang jalan yang saaat ini bernama jalan Samanhudi (depan Pasar Kota Gresik). Jadi tradisi maupun lokasi dari tradisi Pasar Bandeng memiliki nilai sejarah, maka sebagai bangsa yang baik janganlah mengkhianati sejarah. 
Refrensi :
Rahma, Yunita. 2014. Sang Gresik Bercerita. Gresik : Mataseger


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});