INIGRESIK – Nada Almubarokah, putri asli Gresik, berhasil melanjutkan studi S2 di University of Warwick, Inggris, melalui beasiswa LPDP setelah sempat gagal pada percobaan pertama. Dalam sebuah podcast lokal, ia membagikan perjalanan panjangnya sejak bermimpi kuliah ke luar negeri hingga akhirnya diterima di salah satu universitas ternama di Inggris.
Impian Nada untuk belajar di luar negeri sudah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah. Keinginan itu semakin kuat setelah ia gagal menembus perguruan tinggi negeri saat S1. Kegagalan tersebut justru menjadi titik balik yang memotivasinya untuk membuktikan bahwa latar belakang bukan penentu masa depan.
Ia mengakui, tantangan terbesar yang dihadapi saat itu adalah keterbatasan finansial dan minimnya akses informasi tentang studi luar negeri di Gresik. Pada masa tersebut, pembahasan mengenai kuliah ke luar negeri belum seluas sekarang. Untuk mencari informasi, Nada bahkan harus berangkat sendiri menggunakan angkutan umum ke Surabaya guna menghadiri pameran pendidikan karena tidak memiliki kendaraan pribadi.
Baca Juga : Populasi Tersisa Kurang dari 250 Ekor, Rusa Bawean Terancam Punah Meski Pernah Jadi Maskot Asian Games 2018
Perjuangan tersebut tidak langsung membuahkan hasil. Saat pertama kali mendaftar beasiswa LPDP, Nada dinyatakan gagal pada Tahap 1. Ia menilai kegagalan itu terjadi karena rencana kontribusi yang diajukan masih terlalu umum dan tidak spesifik. Saat itu, ia hanya menuliskan komitmen untuk memajukan pendidikan Indonesia tanpa menjabarkan langkah konkret.
Belajar dari pengalaman, Nada memperbaiki strategi pada pendaftaran berikutnya. Ia menyusun rencana kontribusi yang lebih terarah dan realistis, yakni berfokus pada peningkatan kemampuan bahasa Inggris di kawasan Gresik Utara. Pendekatan yang spesifik dan relevan dengan kebutuhan daerah tersebut menjadi nilai tambah dalam seleksi.
Selain membahas strategi beasiswa, Nada juga menekankan pentingnya penguasaan bahasa Inggris, terutama bagi generasi muda di kota industri seperti Gresik. Menurutnya, bahasa Inggris harus dipahami sebagai alat komunikasi global, bukan sekadar mata pelajaran sekolah.
Ia menyarankan metode pemerolehan bahasa secara alami, seperti mendengarkan podcast berbahasa Inggris, menonton film dengan subtitle bahasa Inggris, serta membiasakan self talk untuk melatih kelancaran berbicara. Konsistensi dalam membangun kebiasaan dinilai lebih efektif dibanding sekadar menghafal teori tata bahasa.
Nada menyoroti bahwa Gresik sebagai kawasan industri dengan banyak perusahaan multinasional membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten secara global. Tanpa kemampuan bahasa Inggris, tenaga kerja lokal berisiko kalah bersaing dengan pekerja asing atau profesional dari luar daerah.
Dalam sesi motivasi, ia juga mengingatkan agar anak muda tidak merasa rendah diri karena latar belakang keluarga. Ia sendiri mendaftar LPDP melalui jalur prasejahtera dan membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi di luar negeri.
Baca Juga : Berdiri Sejak 2016, Stand Up Indo Gresik Catat 60 Penonton per Show dan Targetkan Special Show Tahunan
Nada menegaskan bahwa proses meraih mimpi sering kali terasa sunyi. Tidak semua orang di sekitar memiliki visi yang sama, namun keberanian melangkah sendirian menjadi bagian dari perjalanan menuju kesuksesan. Ia juga menekankan bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar dan mengembangkan diri.
Kisah Nada Almubarokah menjadi bukti bahwa kegagalan bukan akhir perjalanan. Dengan strategi yang tepat, visi kontribusi yang jelas, dan penguasaan keterampilan dasar seperti bahasa Inggris, anak daerah pun memiliki peluang yang sama untuk menembus kampus internasional dan membawa dampak bagi daerah asalnya.

